Nama : Helena Damayanti Siregar
NPM : 13213997
Kelas : 3EA14
Penalaran
Penalaran
adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan
empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan
pengalaman yang sejenis juga akan terbentuk preposisi-preposisi yang sejenis,
berdasarkan sejumlah preposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang
menyimpulkan preposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang
disebut menalar
Penalaran
itu sendiri pada dasarnya merupakan aktivitas berpikir yang abstrak yang
biasanya untuk mewujudkan penalaran tersebut dibutuhkan/ diperlukan suatu
simbol. Simbol dalam penalaran berbentuk bahasa,sehingga wujud penalaran
tersebut akan berupa sebuah argumen.. selain itu menurut minto rahayu (2005:27)
bernalar akan membantu manusia berpikir lurus, efisien, tepat dan teratur untuk
mendapatkan kebenaran dan menghindari kekeliruan. Bernalar mengarah pada
berpikir lepas dari berbagai prasangka emosi dan keyakinan seseorang karena penalaran mendidik manusia bersifat
objektif, tegas,dan berani, suatu sikap yang dibutuhkan dalam segala kondisi.
Hal-hal
yang harus diperlukan dalam bernalar, meliputi:
1) Adanya Fakta
Penalaran memerlukan fakta sebagai unsur
dasarnya, karena itu agar dapat menalar dengan tepat kita perlu memiliki
pengetahuan tentang fakta yang berkaitan baik secara fungsional maupun dalam
hubungan sebab akibat.
2)
Berfikir Sistematis.
3)
Berpikir Secara Logis.
4)
Tidak berdasarkan dugaan melainkan didukung argumen yang benar dan masuk akal.
Cara
menguji fakta
Fakta adalah segala sesuatu
yang tertangkap oleh indera manusia atau data keadaan nyata yang terbukti dan
telah menjadi suatu kenyataan.Untuk menetapkan apakah fakta atau informasi yang
kita peroleh itu merupakan fakta, maka harus diadakan penilaian.penilaian
informasi tersebut harus merupakan penilaian tingkat pertama untuk mendapatkan
keyakinan bahwa semua bahan itu adalah fakta/kenyataan. Kemudian dilanjutkan
dengan penilaian tingkat kedua yaitu konsistensi dan koherensi. Dengan
penilaian konsistensi kita dapat mengetahui apakah suatu informasi merupakan
fakta atau justru sebaliknya. Suatu informasi dapat dikatakan sebuah fakta jika
setiap data yang diberikan saling mendukung dan tidak ada yang saling
bertentangan satu sama lain dan melemahkan data yang lain. penilaian koherensi ialah bagaimana data atau
informasi tersebut sesuai dengan pengalaman manusia pada umumnya. Jika
informasi yang diterima jarang terjadi atau kejadian yang tidak masuk akal
tentu saja informasi tersebut diragukan kebenarannya
Cara
menguji autoritas
Seorang penulis yang
objektif selalu menghindari semua desas-desus atau kesaksian dari tangan kedua.
Penulis yang baik akan membedakan pula apa yang merupakan hanya pendapat saja,
atau pendapat yang sungguh-sungguh didasarkan atas penelitian atau data-data eksperimental.
Untuk menilai suatu autoritas, penulis dapat memilih beberapa pokok berikut:
a) Tidak mengandung
prasangka
Pendapat
harus disusun berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh ahli itu sendiri, atau
berdasarkan hasil eksperimental yang dilakukannya.
b) Pengalaman dan
pendidikan autoritas
Pendidikan
yang diperoleh autoritas menjadi jaminan awal
c) Kemashuran dan
presite
Meneliti
apakah pernyataan atau pendapat yang akan dikutip sebagai autoritas itu hanya
sekedar bersembunyi dibalik kemashuran dan prestise pribadi dibidang lain.
d) Khorensi dan
kemajuan
Pendapat
yang diberikan autoritas harus sejalan dengan perkembangan dan kemajuan zaman,
atau khoren dengan pendapat atau sikap terakhir dalam bidang itu.
sumber :
Rahayu,
Minto. 2007. Bahasa Indonesia di
Perguruan Tinggi. Jakarta : Grasindo
Hs,
Widjono. 2007. Bahasa Indonesia Mata
Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. Jakarta : Grasindo.







0 komentar:
Posting Komentar